Assalamu’alaikum wr, wb,
Para pembaca yang budiman,
Matahari Ramadhan akan tenggelam di ufuk Barat, sebersit terbitnya bulan sabit, selepas maghrib menandai datangnya bulan baru, yaitu bulan Syawwal. Lalu, apa artinya semua ini? Akankah ia akan berlalu tanpa makna, tanpa kesan, atau tanpa ada nilai tambah dalam diri dan kehidupan kita.
Sesungguhnya, Ramadhan adalah sebuah madrasah. Sekolah yang mendidik kita menjadi manusia yang benar, manusia yang jujur, manusia yang suka menebar kebaikan.
Ramadhan menjadi suatu sarana penguatan hubungan seorang insan dengan Tuhannya. Menegaskan kembali pengakuan terhadap Yang Mahakuasa. Tanpa keyakinan terhadap Allah Swt, maka kehidupan ini hanyalah absurd. Tidak ada kontrol moral yang lekat.
Renungkanlah, siapa sesungguhnya yang tahu betul Anda benar-benar dengan jujur telah berpuasa di suatu hari. Yaitu adalah Anda sendiri dan Allah Swt. Inilah latihan konsistensi diri.
Kedua, makanan yang sudah Anda beli dengan gaji halal dan sah. Namun, kata Allah Swt, jangan dimakan dari terbit fajar sampai tenggelam matahari. Lalu, Anda tidak memakannya, sekalipun itu milik Anda sendiri. Bagaimana mungkin seseorang yang memahami makna puasa, kemudian korupsi? Mencuri?
Setelah Anda rasakan lapar yang melilit, tubuh yang lemah, dahaga yang kering, inilah rasanya tak berpunya, inilah rasanya miskin. Bukankah selayaknya kita lebih peduli, siap berbagi. Buktikanlah di Hari Raya Iedul Fithri ini.
Tifatul Sembiring, Presiden PKS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar