Selamat Datang di Dunia Long Life Learning Program

Mendidik anak, bukanlah hal yang mudah. Agar mendidik menjadi hal yang menyenangkan dan efektif, kita harus tahu tekniknya. Nah, salah satunya dengan multimetode dan multimedia. Kami hadir untuk memudahkan orangtua dalam mendidik anak dengan media-media pendidikan yang insya Allah berkualitas.
Berikut produk-produk kami:
I Love My Al-Quran
Ensiklopedia Bocah Muslim
Halo Balita
Nabiku Idolaku
Cerita Binatang 2 Bahasa Berima ILMA

Tampilkan postingan dengan label Masjid Terkenal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid Terkenal. Tampilkan semua postingan

18 November 2008

London Central Mosque





The London Central Mosque (also known as the Islamic Cultural Centre, ICC or Regent's Park Mosque) is located near Marylebone station, the Baker Street Underground station and Regent's Park in the City of Westminster, central north London, England. It was designed by Sir Frederick Gibberd, completed in 1978, and has a prominent golden dome. The main hall can hold over five thousand worshippers,[1] with women praying on a balcony overlooking the hall. The mosque holds a chandelier and a vast carpet, with very little furniture.

At the praying area, taken right after Friday prayer.
The inside of the dome is decorated with broken shapes in the Islamic tradition. There is also a small book shop and halal café on the premises. The Mosque is joined to the Islamic cultural centre which was officially opened by King George VI in 1944[2] and was given as an unconditional gift to the UK Muslim community, although the land was donated by George VI in return for a site in Cairo for an Anglican cathedral.[2]



The London Central Mosque is easily recognizable by its large golden dome and stout 140-foot minaret on the edge of Regent's Park. Aside from these traditional aspects of mosque architecture, the building is quite modern and resembles other buildings from the same era.

As with most worldwide mosques, the London Central Mosque is actually a large mosque complex that also includes a library with over 20,000 books, administrative offices, a conference room, a Muslim bookshop and events hall. A new educational and administrative wing was added in 1994.

The main prayer hall is oriented towards Mecca and features lush red carpets, a vast dome decorated with mosaics, and a huge central chandalier. It holds 1,400 worshippers at prayer times, but can be extended outside to accommodate up to 4,000 for festivals (and even more including the typical overflow into the courtyard).

Up to 50,000 Muslims visit London Central Mosque for the two main Muslim festivals (Eids) of the year, typically worshipping in six groups. Around lunchtime on most Fridays (the main Muslim day of worship), the mosque is full to overflowing with Muslim worshippers from all over London and beyond.



The mosque is open for visitors anytime the mosque is open. Photographs are prohibited (even of the courtyard) without special permission. Women must cover their head (headscarves can be borrowed from the bookshop inside) and both men and women must have their legs covered over the knee.

30 Oktober 2008

Birmingham Central Mosque

Birmingham central mosque merupakan masjid kedua yang dibangun di Inggris. Masjid ini dibangun pad atahun 1969 dan dibuka untuk umum pada tahun 1975. masjid ini merupakan salah satu bangunan yang paling dikenali di kota Birmingham sehingga banyak orang yang datang berkunjjung ke masjid ini setiap tahunnya. Masjid ini mempunyai buku tamu khusus dimana setiap tamu diharuskan untuk memberikan tanda tangannya. Hal ini mulai berlaku sejak tahun 1984. tidak hanya itusaja, ternyata setiap tamu pun dianjurkan untuk menuliskan pesan dan kesan mereka selama berada di mesjid itu dalam sebuah buku yang disebut Visitor’s Book. Masjid ini dibuka setiap tahun. Pengunjung yang datang berasal dari sekolah-sekolah, universitas dan lembaga lain yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai masjid ini maupun mengenai agama Islam baik untuk studi maupun propjek mereka.
Birmingham central mosque juga dikenal sebagai pusat reference dan advokasi bagi umat muslin jamaah masjid dan stafnya telah menjadi narasumber mengenai isu-isu agama Islam pada beberapa program televise dan berita lainnya beberapa tahun ini. Beberapa media berfokus pada keterlibatan masjid dalam hak asasi manusia dan isu-isu politik Islam secara nasional dan internasional. Sejak berdirinya, masjid ini menjadi poin penting bagi komunitas muslim di Birmingham. Selama beberapa tahun ini, baik muslim maupun non muslim telah menggunakan masjid ini untuk kegiatan-kegiatan mereka. masjid ini mempunyai tiga lantai. Pada lantai pertama terdapat ruang sholat utama yang besar dan dapat menampung sekitar 2800 jamaah pada satu waktu. Sebagai tambahan, tempat untuk jamaah wanita berada di lantai tiga dan dapat menampung 400 jamaah. Sedangkan lantai dasar terbagi menjadi dua area yang disediakan untuk kantor, area hall untuk para komunitas, perpustakaan Islam, ruang kelas dan sebuah hall sekolah yang besar yang kadang kala digunakan juga untuk sholat. Pada hari-hari tertentu seperti Iedul Fithri, baik ruang sholat utama maupun hall sekolah digunakan untuk sholat para jamaah sehingga dapat menampung sekitar 5000 jamaah. Pada hari Raya Iedul Fithri maupun Iedul Adha seringkali sholat Ied dilaksanakan lima tahap sehingga jamaah yang dating bisa berkisar antara 15.000 sampai 20.000 jamaah. Sedangkan untuk shalat Jum’at biasanya jamaah yang datang sekitar 4000 orang.

10 Oktober 2008

Islamic Centre of Amerika, Michigan



The new Islamic Center of America opens its doors to serve the Muslim population in Dearborn, Michigan, May 13, 2005. The center has a gold-domed mosque flanked by two minarets helping to make the 70,000 square-foot facility one of the largest Islamic centers in North America. The main prayer hall accommodates 1,000 people, including 700 men in one area and 300 women in the balcony.

Hundreds of worshipers gathered on Friday for the first prayer session at a gilded new mosque that is yet another facility to serve the large Muslim population around Detroit.

A gold-domed mosque flanked by two minarets and a banquet hall were part of a $14 million expansion project to a Muslim school that, taken together, is now the Islamic Center of America, a 70,000 square-foot facility.

When a 700-seat auditorium and a two-story library and school are also completed, it will likely become the largest Islamic center in North America, Muslim officials said.

"The center is a symbol of the sharp growth and advancement of our Muslim community," Imam Hassan al-Qazwini, the spiritual leader of the mosque, told Reuters.

The main prayer hall accommodates 1,000 people, including 700 men in one area and 300 women in a balcony.

Builders imported doors from Turkey, wood from the Philippines, granite from India and Brazil, and chandeliers from Egypt, said Alan Abbas, who built the center.

"It has been a labor of love," said Abbas, an immigrant from Lebanon.

The mosque is only a few miles from the new Arab American National Museum, the first museum in the United States dedicated exclusively to Arab Americans. It also opened its doors this month.

Al-Qazwini said a major goal of the new mosque will be to reach out to non-Muslims to educate people about Islam.

"This center will offer a great opportunity for non-Muslims to come and learn about Islam," he said. "There are many misconceptions existing in the mind of non-Muslims in this country about Islam, unfortunately."

26 September 2008

Grand Mosque Dubai



Islamic Architectural and Traditional Mosque
The Grand Mosque Dubai is counted among one of the largest mosques (with a capacity to accommodate up to 1200 worshippers) in United Arab Emirates. Originally constructed in traditional Islamic architectural style and opened in 1900 A.D as a kuttab (Quranic school) where children learnt to recite the Quran from memory, the Grand Mosque of Dubai was rebuilt (maintaining the style of the original Grand Mosque) in 1998 and now boasts a 70 meters (231ft) high minaret- the tallest minaret in Dubai.
Situated on the Bur Dubai side of the creek, near the Ruler's Court, the Grand Mosque consists of 45 small domes in addition to 9 large ones boasting stained glass panels, sand-colored walls and wooden shutters. It is the main center of worship and important monument of Dubai.
The new Grand Mosque's sand-colored walls and wooden shutters blend perfectly with the surrounding old quarter of Bur Dubai, is known for its size and elaborate design. The best time to see it is at night, when it is spectacularly lit up.
The Grand Mosque of Dubai is done up in Persian style as it contains blue mosaic type work, domes and sand hued facades. The mosque also contains handmade stained glass and wooden structures.
Non- Muslims are not allowed entry in the Grand Mosque. But they can visit the minaret and click picture of the mosque from therein.

25 September 2008

Masjid Kobe, Jepang



Masjid Kobe yang beralamat Nakayamate Dori, Chuo-ku, Kobe ini boleh dibilang sebagai masjid pertama di Jepang. Didirikan pada tahun 1928 atas prakarsa pedagang muslim India yang membentuk Islamic Committee for Kobe. Seorang tokohnya, Mr. A.K Bochia pergi ke India untuk mengumpulkan donasi pembangunan masjid.
Menurut salah satu sumber, arsitektur masjid Kobe dikerjakan oleh seorang India dengan nuansa kental bangunan-bangunan di Turki. Masjid Kobe berfungsi normal pada tahun 1935, setelah mendapat persetujuan dari emperor. Masjid ini menjadi persinggahan ibadah bagi pedagang, guru, mahasiswa muslim yang merantau ke Jepang.
Dibuka secara resmi dengan shalat pertama pada Oktober 1935. Masjid Kobe setelah itu terkenal dengan sebutan ‘Mecca of Japan’.

Masjid ini dibangun dengan menggunakan arsitektural tradisional Turki. Lantai pertama masjid ini digunakan untuk jamaah laki-laki dan lantai kedua untuk jamaah perempuan. Lantai ketiga dan basement digunakan untuk mengakomodasi jumlah jamaah yang besar pada acara festival tradisional Islam. Bangunan masjid ini mempunyai atap dan kubah tradisional serta dua buah menara untuk mengumandangkan adzan yang dibuat secara tradisional pula.
Di masjid itu pula terdapat cultural centre yang terdiri dari resepsionis, kantor administrasi, perpustakaan, kelas, dan apartemen.
Untuk berkunjung ke masjid ini dan hanya sekadar tur, pengunjung diingatkan untuk tidak menimbulkan keributan dan menjaga anak-anak kecil yang mereka bawa. Pengunjung dilarang melakukan tur di mesjid ini ketika sedang dilangsungkan sholat lima waktu kecuali jika mereka sudah mendapatkan izin dari pejabat yang berwenang. Untuk memasuki masjid disarankan menggunakan pakaian yang menutup aurat.

 


Masjid Kobe tetap utuh di tengah porak poranda alam sekitarnya.

Tahun 1945, Jepang terlibat perang Dunia Kedua. penyerangan Jepang atas pelabuhan Pearl Harbour di Amerika telah membuat pemerintah Amerika memutuskan untuk menjatuhkan bom atom pertama kali dalam sebuah peperangan.
Dan Jepang pun kalah. Dua kotanya, Nagasaki dan Hiroshima dibom Atom oleh Amerika. Saat itu, kota Kobe juga tidak ketinggalan menerima akibatnya. Boleh dibilang Kobe menjadi rata dengan tanah.
Dan ajaibnya, ternyata masjid ini tetap masih berdiri kokoh. Kekokohan Masjid Kobe diuji lagi dengan Gempa Bumi paling dahsyat tahun 1995. Tepatnya pada pukul 05.46 Selasa, 17 Januari 1995. Gempa ini sebenarnya bukan hanya menimpa Kobe , tapi juga kawasan sekitarnya seperti South Hyogo, Hyogo-ken Nanbu, dan lainnya.

23 September 2008

Masjid Agung Jawa Tengah










Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang terletak di Jalan Gajah Raya Semarang, Jawa Tengah, diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 November 2006. Masjid ini kini menjadi kebanggaan umat Islam karena keberadaan tempat ibadah yang dibangun di atas lahan 10 hektare itu telah mendunia.
Pembangunan masjid ini menelan dana sekitar Rp 198,5 Miliar dan pembangunannya memakan waktu 5 tahun. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai pusat pendidikan, pelayanan masyarakat, pusat aktivitas syiar Islam, dan alternatif wisata religi.

MAJT dibangun di areal seluas kurang lebih 10 hektare dengan luas bangunan induk seluas 7.669 m2, dan mampu menampung 15.000 jemaah. Pelatarannya seluas 7.500 m2 dilengkapi dengan enam payung raksasa yang bisa membuka dan menutup secara otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi di Kota Madinah.

Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Arab, dan Yunani.

Di bangunan sayap kanan terdapat ruang pertemuan atau auditorium yang mampu menampung 2.000 jemaah. Sedangkan, sayap kiri digunakan untuk perpustakaan yang nantinya didesain menjadi perpustakaan modern (digital library) dan ruang perkantoran yang disewakan.
Yang menarik dari lay out masjid ini adalah adanya enam buah payung elektrik raksasa yang memayungi para jemaah yang beribadah di halaman masjid. Keenam payung raksasa ini bisa membuka dan menutup otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi Madinah. Tinggi tiang payung masing-masing 20 meter dengan bentangan mencapai 14 meter

MAJT selain disiapkan sebagai tempat ibadah, juga dipersiapkan sebagai objek wisata religius. Untuk menunjang tujuan tersebut, MAJT dilengkapi dengan wisma penginapan dengan kapasitas 23 kamar berbagai kelas sehingga para peziarah yang ingin bermalam bisa memanfaatkan fasilitas ini.

Daya tarik lain dari masjid ini adalah Menara Asmaul Husna atau Al Husna Tower yang tingginya mencapai 99 Meter. Bagian dasar dari menara ini terdapat Studio Radio DaIs (Dakwah Islam). Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam dan di lantai 18 terdapat "Kafe Muslim" yang dapat berputar 360 derajat. Di lantai 19, yaitu untuk menara pandang dilengkapi lima teropong yang bisa melihat kota Semarang.

MAJT ditinjau dari segi arsitekturnya sangat membanggakan dan bangunannya meneladani prinsip gugus model kluster dari Masjid Nabawi di Madinah.

Bentuk penampilan arsitekturnya merupakan gubahan baru yang mengambil model dari tradisi masjid para wali dengan membubuhkan corak universal arsitektur Islam pada bangunan pusatnya dengan menonjolkan kubah utama yang dilengkapi dengan "minaret" runcing menjulang di keempat sisinya.
Ide pendirian MAJT berasal dari Gubernur Mardiyanto yang didukung tokoh-tokoh masyarakat dan agama. Dasar pertimbangan pembangunan masjid ini adalah karena masyarakat Jateng memerlukan bangunan monumental berupa masjid yang menjadi kebanggaan rakyat Jateng. Keberadaan masjid itu juga mencerminkan perhatian pemerintah dan masyarakat untuk memelihara keseimbangan antara pembangunan material dan spiritual.

MAJT beserta fasilitas pendukungnya menempati tanah "bondo" Masjid Agung Semarang di Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.
Masjid yang mampu menampung 15.000 jemaah ini secara keseluruhan terdiri atas bangunan masjid, plaza masjid dengan enam payung hidrolik raksasa, aula pertemuan, graha agung hotel, kompleks perkantoran, perpustakaan, dan menara Asmaul Husna.

Beberapa bangunan di dalam area MAJT mempunyai spesifikasi khusus yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia. Misalnya, payung hidrolik raksasa hanya ada di dua tempat, yaitu Masjid Nabawi dan Masjid Agung Jawa Tengah.

Menara Asmaul Husna yang berdiri kokoh di sudut barat daya MAJT merupakan salah satu daya tarik kawasan itu. Dari bentuknya, bangunan setinggi 99 meter yang melambangkan nama Allah itu dikonsep sebagai replika Menara Kudus. Banyak pengunjung yang datang untuk sekadar melihat atau berfoto bersama di menara MAJT.